//
you're reading...
Uncategorized

Hukum Parasit

Hukum Parasit

Oleh: Valentinus Pidin*

Analogi Api: api bisa membakar rumah atau memasak air…(Stephen James Fitzjames dalam bukunya yang berjudul Liberty, Equality, Fraternity).

Dari pernyataan di atas, jelas bahwa kebebasan tidak selalu baik, bergantung pada bagaimana dan kapan dipergunakan. Konsekuensinya, kita tidak boleh mengatakan begitu saja bahwa kebebasan itu harus diatur atau dikekang.

Berbicara mengenai ketidakbebasan dan ketidakadilan hukum dalam ranah negara Indonesia sepertinya menjadi menu sajian berita tiap saat. Kasus yang dialami oleh ibu Prita, seorang ibu yang didenda 230 juta oleh pengadilan karena telah mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit swasta Omni Internasional, menjadi salah salah satu berita yang cukup hangat di berbagai media. Kasus ini mendapat respond dan kecaman dari banyak pihak, bahkan para artis seperti Vidi Aldiano, Afgan dll, terlibat dari aksi protes ini. Sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap vonis pengadilan dan sanksi hukum yang begitu membebani rakyat kecil ini, maka dimulailah gerakan mengumpulkan uang koin. Suatu gerakan yang sangat baru, sebagai bentuk protes ketidakadilan hukum dan peraturan yang ada.

Melihat, Menilai, dan Memutuskan

Mencermati lebih jauh, sebenarnya merupakan hal yang wajar apabila konsumen memberikan komentar karena pelayanan yang baik atau kurang baik dari suatu lembaga. Banyak institusi atau lembaga yang bahkan meminta pendapat, saran atau masukan, dan kritik atas pelayanan yang diberikan. Lalu mengapa suara ibu Prita ini malah tidak didengarkan bahkan dijatuhkan? Apakah dalam institusi tersebut memang tidak mengijinkan kritik, usul, saran atau bentuk kepuasan pasien?

Dalam kasus seperti ini, pemerintah setempat seharusnya tidak tinggal diam, melainkan ikut serta dalam melihat masalah yang terjadi pada anggota rakyatnya. Karena peran dan kedudukan pemerintah sangat penting dalam menilai kasus seperti ini, walaupun bukan tugasnya, tetapi itu tanggung jawabnya. Pemerintah dan pihak pengadilan diharapkan bukan hanya bisa membuat peraturan, melainkan bagaimana peraturan itu dibuat dan mau ikut terlibat aktif di dalamnya. Memang, peraturan atau kekangan itu harus ada, karena tanpa aturan, masyarakat tentu akan kacau balau. Demikian juga dengan lembaga rumah sakit ybs, seharusnya menilai dan mencermati lebih jauh maksud Ibu Prita ini, bukan karena motif sakit hati atau ungkapan dendam. Di satu sisi, walaupun lembaga yang bersangkutan telah mempunyai suatu aturan tersendiri, tetapi tentu lembaga itu juga tetap berada dibawah pengawasan pemerintah setempat. Dari pihak masyarakat atau orang yang pernah mendapat pelayanan dari rumah sakit ini, apabila dilakukan voting, apakah semua berkomentar puas dengan pelayanan yang ada. Mengapa setelah ada aksi kepedulian, baru pihak rumah sakit mengadakan jumpa pers?

Dari si terdakwa, ibu Prita, seharusnya walaupun dalam ketidakpuasannya, tetap menjunjung tinggi arti pentingnya menjaga nama baik. Bukan malah langsung menyebarkan berita ketidakpuasan pelayanan yang ada kepada orang lain di luar lembaga itu. Seharusnya Ibu Prita ini mengadu atau protes langsung kepada lembaga yang bersangkutan. Sehingga apabila lembaga tersebut tetap tidak mau mendengarkan keluhan atau keinginan ibu Prita ini, baru ibu ini bisa mengadu pada orang lain atau meminta pendapat orang lain di luar lembaga ybs. Urusan dalam harus diselesaikan di dalam. Dari segi kebebasan fisis, memang tidak dibenarkan karena tindakan pencemaran nama baik. Dari segi kebebasan moral, bisa dibenarkan juga bisa tidak; alasan tindakan itu bisa dibenarkan, karena ibu Prita ini mengungkapkan ketidakpuasannya tanpa embel-embel apapun dan tanpa merasa bersalah atau berdosa; tidak dibenarkan secara moral, karena tindakan ibu Prita ini bisa jadi fitnah semata. Dari segi kebebasan memilih, ibu Prita ini menggunakan hak suaranya sebagai pasien atau sebagai warga negara pada umumnya.

Bukan manusia yang mengabdi pada hukum

Karena masalah pribadi juga masalah bersama (society). Maka kasus yang menimpa ibu Prita ini juga kasus bersama. Maka sangat diharapkan peran serta masyarakat sekitar dalam menangani kasus ini sangat penting. Karena kasus ini bukan lagi masalah pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh pihak lain manapun, melainkan kasus yang berkaitan dengan peraturan hidup bersama (hukum). Aturan atau hukum yang ada, bukan malah merugikan atau menguntungkan satu pihak, melainkan keadilanlah yang diharapkan. Sehingga pentinglah memperhatikan kemampuan dan akar dari kasus tersebut. Karena bagaimana pun juga, peraturan atau hukum yang ada merupakan realisasi atas keinginan hidup yang lebih baik, aman dan harmonis satu sama lain dalam suatu masyarakat, bangsa, dan negara.

Kalau melihat kemampuan atau situasi hidup keluarga dari ibu Prita, apakah denda uang sebanyak itu dibenarkan? Memang ada kemungkinan besar ibu Prita-lah yang bersalah, tetapi hukum yang diberikan sungguh melampaui batas kemanusiaan. Keadilan dimana? Sementara sang koruptor yang memakan jutaan bahwakan triliunan rupiah malahan hanya diminta mengembalikan uang tersebut; petani miskin yang mencuri lima batang pohon jagung, malah dihukum lima tahun penjara. Kesalahan fatal bukan lagi pada pelaku melainkan pada orang yang berwenang. Apa bedanya sang koruptor jelas-jelas mencemarkan nama baik negara dengan ibu Prita yang mencemarkan nama baik lembaga dalam negara? Inilah bentuk ketidakadilan yang terjadi. hak asasi yang dirampas. Suatu pemarasitan (parasit) rakyat kecil. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum; hak untuk tidak diperlakukan dengan tidak manusiawi, hak untuk tidak dimanipulasi. Semuanya ini akhirnya hanya wacana belaka. Hukum yang menjadi parasit.

 

*(Penulis adalah Mahasiswa Semester V Fakultas Filsafat Teologi STFT Widya Sasana Malang )

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: