//
you're reading...
Uncategorized

Gagasan Hegel tentang Idealisme Mutlak Dialektika

Gagasan Hegel tentang Idealisme Mutlak Dialektika

I. Pengantar

Filsafat saat ini merupakan bentuk reaksi langsung atau tak langsung atas pemikiran George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Ia adalah seorang pemikir spekulatif yang paling hebat. Semua ahli sejarah filsafat menyetujui bahwa dia seorang raksasa di bidang filsafat. Sehingga karena kehebatannya, filsafat Barat tidak pernah mampu mencapai lagi kehebatan filsafat Hegel. Oleh karena itu, Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak dari Idealisme Jerman. Fisafatnya banyak diinspirasikan oleh Imannuel Kant. Disamping Immanuel Kant, Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kemampuan rasio yang mampu menerjemahkan hidup dalam bentuk rumusan dialektikanya yang terkenal. Dia adalah seorang yang progresif dalam berpikir dan bertindak, meskipun di satu sisi dia bukanlah seorang yang reaksioner dalam bersikap terhadap realitas. Filsafat Roh yang merupakan kharakternya merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling di zaman pertumbuhan filsafat Idealisme Jerman abad – 19. Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak.

Hegel yang pada awalnya sangat terpengaruh oleh filsafat Kant tersebut kemudian menemukan caranya tersendiri melalui kontemplasi yang terus menerus. Pada dasarnya filsafat Hegel mematahkan anggapan kaum empiris seperti John Locke, Barkeley, dan David Hume. Kaum Empiris ini mengambil sikap tegas pada metafisika. Bagi Locke, metafisika tidak mampu menjelaskan basis fundamental fisafat atau Epistemologi dan tidak dapat mencapai realitas total. Pendapat ini diteruskan kembali oleh David Hume bahwa metafisika tidaklah berharga sebagai ilmu dan bahkan tidak mempunyai arti. Menurut David Hume, metafisika hanya merupakan ilusi yang ada diluar batas pengertian manusia.

Dengan metafisika kemudian Hegel mencoba membangun suatu system pemikiran yang mencakup segalanya baik Ilmu Pengetahuan, Budaya, Agama, Konsep Kenegaraan, Etika, Sastra, dll. Hegel meletakkan idea tau roh atau jiwa sebagai realitas uatam, dengan ini ia akan menyibak kebenaran absolute dengan menembus batasan-batasan individual atau parsial. Kemandirian benda-benda yang terbatas bagi Hegel dipandang sebagai ilusi, tidak ada yagn benar nyata kecuali keseluruhan.

II. Pembahasan

1.      Riwayat Hidup G.W.F Hegel

Hegel tokoh terbesar dari filsafat idealis lahir di kota Stuttgart pada tanggal 27 Agustus 1770 dari keluarga pegawai negeri, ayahnya merupakan pekerja di kantor keuangan kerajaan Wurtenberg. Tahun 1788 dia masuk sekolah teologi yaitu Universitas Tuebingen. Di sana dia mengenal penyair Holderlin dan Schelling. Pada awalnya dia sangat tertarik dengan teologi, dia bahkan menganggap filasafat adalah teologi dalam pengertian penyelidikan terhadap Yang Absolut. Dari tahun 1790 sampai 1800 bisa dibilang Hegel hanya menghasilkan karya-karya yang berbau teologi antara lain “The Positivity of Christian Religion” tahun 1796 dan “The Spirit of Christianity” tahun 1799.

Hegel selanjutnya setelah sempat tinggal di Swiss, mengajar di Universitas Jena tahun 1801, di sana dia selain mengajar dia juga bekerjasama dengan Schelling dalam menyunting jurnal filsafat. Tahun 1807 terbitlah “Die Phanomenologie des Geistes” (Fenomenologi Roh) yang merupakan dasar dari sistem filsafatnya.
Hegel sendiri juga terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada masa ia hidup. Peristiwa itu adalah dikalahkannya pasukan Prusia oleh tentara Prancis di bawah pimpinan Napoleon tahun 1806. Dengan demikian Prusia dikuasai oleh pemerintahan Napoleon. Dalam pemerintahan Napoleon rakyat Prusia hidup dalam iklim yang jauh lebih demokratis, kebebasan pers misalnya sangatlah dijunjung tinggi. Namun ternyata Napoleon tidak dapat bertahan lama menguasai Prusia, karena lewat peperangan sengit antara Leipzig dan Waterloo, Napoleon pun dikalahkan tahun 1816. Kekaisaran Prusia kembali dipulihkan dan pemerintahan yang bersifat otoritarian kembali dijalankan di seluruh wilayah Prusia.

Perlu diketahui Hegel yang pada masa revolusi Prancis bersimpati pada gerakan Jacobin yang radikal, ternyata pengagum Napoleon. Dia menyebut Napoleon sebagai Roh Dunia dan kagum atas kejeniusan dan kekuatan Napoleon. Namun ketika kekaisaran Prusia direstorasi dia juga menyatakan diri sebagai pengagum kekaisaran Prusia bahkan menjadi seorang propaganda aktifnya.

Tahun 1818 dia menggantikan Fichte sebagai Profesor di Universitas Berlin dan di sana dia mempublikasikan sebuah karya yang sangat berpengaruh terhadap filsafat politik dan filsafat hukum, buku yang terbit tahun 1820 itu berjudul “Grundlinien der Philosophie des Rechts” (Garis Besar Filsafat Hukum). Selanjutnya terbit juga buku-buku lain yang merupakan hasil dari kuliahnya di Universitas Berlin, yang terpenting dari beberapa karyanya itu adalah “Philosophy of History”. Hegel meninggal di Berlin tahun 1831 sama dengan nasib anaknya yang tidak diakuinya yang meninggal di Jakarta –dulu Batavia—saat menunaikan tugasnya sebagai tentara Belanda tahun 1831.

2.      Metode Dialektika

Dialektika merupakan metode yang dipakai Hegel dalam memahami realitas sebagai perjalanan ide menuju pada kesempurnaan. Hegel beranggapan, baik pemikiran maupun Ada, memperkembangkan dirinya dalam suatu proses dialektis yang meliputi tiga tahap: thesis, antithesis, dan synthesis. Pada tahap pertama, nuansa-nuansa belum memainkan peranan. Di sini, dalam suatu kesatuan yang tidak dipisahkan, masih terdapa banyak perbedaan, bahkan pertentangan. Pada tahap antithesis, dikemukakan suatu pertentangan yang radikal serta tidak bernuansa, malah suatu penyangkalan radikal, sedangkan baru pada tahap synthesis, nuansa-nuansa dan pertentangan-pertentangan dari thesis serta antithesis mencapai kesatuan dan kebenaran yang diperhalus serta diperkaya. Dengan demikian, dialektika dapat juga disebut sebagai proses berfikir secara totalitas, yaitu setiap unsure saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), serta saling bermediasi (mempererantarai dan diperantarai).

Untuk memahami proses ini, Hegel menggunakan kata dalam bahasa Jerman yaitu Aufheben, yang maknanya adalah “menyangkal”, “menyimpan” dan “mengangkat”. Jadi dialektika bukanlah penyelesaian kontradiksi dengan meniadakan salah satunya, tetapi lebih dari itu. Tesis dan lawannya antithesis memiliki kebenaran masing-masing yang kemudian diangkat menjadi kebenaran yagn lebih tinggi. Tj. Lavine menerangkan proses ini sebagai berikut:

a.       Menunda konflik antara thesis dan antithesis

b.      Menyimpan elemen kebenaran dari thesis dan antithesis

c.       Mengungguli perlawanan dan meninggikan konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi.

Hal lainnya juga perlu diketahui bahwa dialektika berkaitan dengan dialog, percakapan. Bayangkan percakapan seperti ini. Ada orang yang mengatakan dengan tegas dan tanpa nuansa apa pun: “Indonesia adalah negara yang paling kaya di dunia” (thesis). Lawan bicaranya membalas dengan tegas pula: “Omong kosong, Indonesia adalah negara yang paling miskin” (antithesis). Kalau orang yang pertama lalu diam saja, maka tidak terjadi percakapan dalam arti yang sebenarnya, tidak ada dialog. Akan tetapi, bayangkan saja! Orang pertama mengetengahkan: “Ya, kalau dikatakan paling kaya, itu tentu terlalu optimis. Negara Indonesia tentu juga banyak kelemahan dalam ekonominya: dari segi tertentu kita kaya, tetapi dari segi lain tidak”. juga orang kedua mulai menambah nuansa pada ucapannya: “Paling miskin, ya itu memang melebih-lebihkan. Kita mempunyai sumber daya alam yang kaya dan pembangunan selama ini sudah membawa banyak hasil”. Dengan demikian mereka mencapai apa yang disebut synthesis di mana unsur-unsur kebenaran dari thesis dan antithesis dipertahankan.[1]

Hegel dalam hal ini juga memberikan contoh yang telah disinggungnya pada permulaan usaha filosofisnya, yang merupakan alternative tradisional dengan asumsi bahwa proposisi haruslah terdiri dari subjek dan predikat. Logika seperti inilah yang kemudian direfleksikan oleh Hegel mengenai, yakni dialog tentang ada, ketiadaan, dan menjadi. Hal itu dijelaskannya secara demikian: “Ada, ada yang murni, mencakup segala sesuatu dan merupakan satu-satunya hal yang ada, sama sekali tidak ditentukan, segala sesuatu terkandung di dalamnya” (thesis). “Ada? Justru itu tidak sesuatu pun, ketiadaan, karena ketiadaan pula sama sekali tidak ditentukan. Tidak terdapat Ada, hanya terdapat Ketiadaan”. “Betul, ‘Ada’ dalam bentuknya yang abstrak dan murni memang tidak mempunyai isi, sama seperti ketiadaan” (synthesis). Synthesis inilah kebenaran yang tertinggi.[2] Dengan demikian, pemikiran tentang ada oleh Hegel diputar-balikkan dan diarahkan ke pemikiran tentang ketiadaan hingga akhirnya kedua-duanya diperdamaikan dalam pemikiran tentang menjadi. Supaya konkret, maka Ada atau Yang Absolut harus dimengerti dalam suatu proses yang menjadi.

Gagasan Hegel tentang Idealisme Mutlak Dialektika

I. Pengantar

Filsafat saat ini merupakan bentuk reaksi langsung atau tak langsung atas pemikiran George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Ia adalah seorang pemikir spekulatif yang paling hebat. Semua ahli sejarah filsafat menyetujui bahwa dia seorang raksasa di bidang filsafat. Sehingga karena kehebatannya, filsafat Barat tidak pernah mampu mencapai lagi kehebatan filsafat Hegel. Oleh karena itu, Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak dari Idealisme Jerman. Fisafatnya banyak diinspirasikan oleh Imannuel Kant. Disamping Immanuel Kant, Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kemampuan rasio yang mampu menerjemahkan hidup dalam bentuk rumusan dialektikanya yang terkenal. Dia adalah seorang yang progresif dalam berpikir dan bertindak, meskipun di satu sisi dia bukanlah seorang yang reaksioner dalam bersikap terhadap realitas. Filsafat Roh yang merupakan kharakternya merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling di zaman pertumbuhan filsafat Idealisme Jerman abad – 19. Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak.

Hegel yang pada awalnya sangat terpengaruh oleh filsafat Kant tersebut kemudian menemukan caranya tersendiri melalui kontemplasi yang terus menerus. Pada dasarnya filsafat Hegel mematahkan anggapan kaum empiris seperti John Locke, Barkeley, dan David Hume. Kaum Empiris ini mengambil sikap tegas pada metafisika. Bagi Locke, metafisika tidak mampu menjelaskan basis fundamental fisafat atau Epistemologi dan tidak dapat mencapai realitas total. Pendapat ini diteruskan kembali oleh David Hume bahwa metafisika tidaklah berharga sebagai ilmu dan bahkan tidak mempunyai arti. Menurut David Hume, metafisika hanya merupakan ilusi yang ada diluar batas pengertian manusia.

Dengan metafisika kemudian Hegel mencoba membangun suatu system pemikiran yang mencakup segalanya baik Ilmu Pengetahuan, Budaya, Agama, Konsep Kenegaraan, Etika, Sastra, dll. Hegel meletakkan idea tau roh atau jiwa sebagai realitas uatam, dengan ini ia akan menyibak kebenaran absolute dengan menembus batasan-batasan individual atau parsial. Kemandirian benda-benda yang terbatas bagi Hegel dipandang sebagai ilusi, tidak ada yagn benar nyata kecuali keseluruhan.

II. Pembahasan

1.      Riwayat Hidup G.W.F Hegel

Hegel tokoh terbesar dari filsafat idealis lahir di kota Stuttgart pada tanggal 27 Agustus 1770 dari keluarga pegawai negeri, ayahnya merupakan pekerja di kantor keuangan kerajaan Wurtenberg. Tahun 1788 dia masuk sekolah teologi yaitu Universitas Tuebingen. Di sana dia mengenal penyair Holderlin dan Schelling. Pada awalnya dia sangat tertarik dengan teologi, dia bahkan menganggap filasafat adalah teologi dalam pengertian penyelidikan terhadap Yang Absolut. Dari tahun 1790 sampai 1800 bisa dibilang Hegel hanya menghasilkan karya-karya yang berbau teologi antara lain “The Positivity of Christian Religion” tahun 1796 dan “The Spirit of Christianity” tahun 1799.

Hegel selanjutnya setelah sempat tinggal di Swiss, mengajar di Universitas Jena tahun 1801, di sana dia selain mengajar dia juga bekerjasama dengan Schelling dalam menyunting jurnal filsafat. Tahun 1807 terbitlah “Die Phanomenologie des Geistes” (Fenomenologi Roh) yang merupakan dasar dari sistem filsafatnya.
Hegel sendiri juga terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada masa ia hidup. Peristiwa itu adalah dikalahkannya pasukan Prusia oleh tentara Prancis di bawah pimpinan Napoleon tahun 1806. Dengan demikian Prusia dikuasai oleh pemerintahan Napoleon. Dalam pemerintahan Napoleon rakyat Prusia hidup dalam iklim yang jauh lebih demokratis, kebebasan pers misalnya sangatlah dijunjung tinggi. Namun ternyata Napoleon tidak dapat bertahan lama menguasai Prusia, karena lewat peperangan sengit antara Leipzig dan Waterloo, Napoleon pun dikalahkan tahun 1816. Kekaisaran Prusia kembali dipulihkan dan pemerintahan yang bersifat otoritarian kembali dijalankan di seluruh wilayah Prusia.

Perlu diketahui Hegel yang pada masa revolusi Prancis bersimpati pada gerakan Jacobin yang radikal, ternyata pengagum Napoleon. Dia menyebut Napoleon sebagai Roh Dunia dan kagum atas kejeniusan dan kekuatan Napoleon. Namun ketika kekaisaran Prusia direstorasi dia juga menyatakan diri sebagai pengagum kekaisaran Prusia bahkan menjadi seorang propaganda aktifnya.

Tahun 1818 dia menggantikan Fichte sebagai Profesor di Universitas Berlin dan di sana dia mempublikasikan sebuah karya yang sangat berpengaruh terhadap filsafat politik dan filsafat hukum, buku yang terbit tahun 1820 itu berjudul “Grundlinien der Philosophie des Rechts” (Garis Besar Filsafat Hukum). Selanjutnya terbit juga buku-buku lain yang merupakan hasil dari kuliahnya di Universitas Berlin, yang terpenting dari beberapa karyanya itu adalah “Philosophy of History”. Hegel meninggal di Berlin tahun 1831 sama dengan nasib anaknya yang tidak diakuinya yang meninggal di Jakarta –dulu Batavia—saat menunaikan tugasnya sebagai tentara Belanda tahun 1831.

2.      Metode Dialektika

Dialektika merupakan metode yang dipakai Hegel dalam memahami realitas sebagai perjalanan ide menuju pada kesempurnaan. Hegel beranggapan, baik pemikiran maupun Ada, memperkembangkan dirinya dalam suatu proses dialektis yang meliputi tiga tahap: thesis, antithesis, dan synthesis. Pada tahap pertama, nuansa-nuansa belum memainkan peranan. Di sini, dalam suatu kesatuan yang tidak dipisahkan, masih terdapa banyak perbedaan, bahkan pertentangan. Pada tahap antithesis, dikemukakan suatu pertentangan yang radikal serta tidak bernuansa, malah suatu penyangkalan radikal, sedangkan baru pada tahap synthesis, nuansa-nuansa dan pertentangan-pertentangan dari thesis serta antithesis mencapai kesatuan dan kebenaran yang diperhalus serta diperkaya. Dengan demikian, dialektika dapat juga disebut sebagai proses berfikir secara totalitas, yaitu setiap unsure saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), serta saling bermediasi (mempererantarai dan diperantarai).

Untuk memahami proses ini, Hegel menggunakan kata dalam bahasa Jerman yaitu Aufheben, yang maknanya adalah “menyangkal”, “menyimpan” dan “mengangkat”. Jadi dialektika bukanlah penyelesaian kontradiksi dengan meniadakan salah satunya, tetapi lebih dari itu. Tesis dan lawannya antithesis memiliki kebenaran masing-masing yang kemudian diangkat menjadi kebenaran yagn lebih tinggi. Tj. Lavine menerangkan proses ini sebagai berikut:

a.       Menunda konflik antara thesis dan antithesis

b.      Menyimpan elemen kebenaran dari thesis dan antithesis

c.       Mengungguli perlawanan dan meninggikan konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi.

Hal lainnya juga perlu diketahui bahwa dialektika berkaitan dengan dialog, percakapan. Bayangkan percakapan seperti ini. Ada orang yang mengatakan dengan tegas dan tanpa nuansa apa pun: “Indonesia adalah negara yang paling kaya di dunia” (thesis). Lawan bicaranya membalas dengan tegas pula: “Omong kosong, Indonesia adalah negara yang paling miskin” (antithesis). Kalau orang yang pertama lalu diam saja, maka tidak terjadi percakapan dalam arti yang sebenarnya, tidak ada dialog. Akan tetapi, bayangkan saja! Orang pertama mengetengahkan: “Ya, kalau dikatakan paling kaya, itu tentu terlalu optimis. Negara Indonesia tentu juga banyak kelemahan dalam ekonominya: dari segi tertentu kita kaya, tetapi dari segi lain tidak”. juga orang kedua mulai menambah nuansa pada ucapannya: “Paling miskin, ya itu memang melebih-lebihkan. Kita mempunyai sumber daya alam yang kaya dan pembangunan selama ini sudah membawa banyak hasil”. Dengan demikian mereka mencapai apa yang disebut synthesis di mana unsur-unsur kebenaran dari thesis dan antithesis dipertahankan.[1]

Hegel dalam hal ini juga memberikan contoh yang telah disinggungnya pada permulaan usaha filosofisnya, yang merupakan alternative tradisional dengan asumsi bahwa proposisi haruslah terdiri dari subjek dan predikat. Logika seperti inilah yang kemudian direfleksikan oleh Hegel mengenai, yakni dialog tentang ada, ketiadaan, dan menjadi. Hal itu dijelaskannya secara demikian: “Ada, ada yang murni, mencakup segala sesuatu dan merupakan satu-satunya hal yang ada, sama sekali tidak ditentukan, segala sesuatu terkandung di dalamnya” (thesis). “Ada? Justru itu tidak sesuatu pun, ketiadaan, karena ketiadaan pula sama sekali tidak ditentukan. Tidak terdapat Ada, hanya terdapat Ketiadaan”. “Betul, ‘Ada’ dalam bentuknya yang abstrak dan murni memang tidak mempunyai isi, sama seperti ketiadaan” (synthesis). Synthesis inilah kebenaran yang tertinggi.[2] Dengan demikian, pemikiran tentang ada oleh Hegel diputar-balikkan dan diarahkan ke pemikiran tentang ketiadaan hingga akhirnya kedua-duanya diperdamaikan dalam pemikiran tentang menjadi. Supaya konkret, maka Ada atau Yang Absolut harus dimengerti dalam suatu proses yang menjadi.

Gagasan Hegel tentang Idealisme Mutlak Dialektika

I. Pengantar

Filsafat saat ini merupakan bentuk reaksi langsung atau tak langsung atas pemikiran George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Ia adalah seorang pemikir spekulatif yang paling hebat. Semua ahli sejarah filsafat menyetujui bahwa dia seorang raksasa di bidang filsafat. Sehingga karena kehebatannya, filsafat Barat tidak pernah mampu mencapai lagi kehebatan filsafat Hegel. Oleh karena itu, Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak dari Idealisme Jerman. Fisafatnya banyak diinspirasikan oleh Imannuel Kant. Disamping Immanuel Kant, Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kemampuan rasio yang mampu menerjemahkan hidup dalam bentuk rumusan dialektikanya yang terkenal. Dia adalah seorang yang progresif dalam berpikir dan bertindak, meskipun di satu sisi dia bukanlah seorang yang reaksioner dalam bersikap terhadap realitas. Filsafat Roh yang merupakan kharakternya merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling di zaman pertumbuhan filsafat Idealisme Jerman abad – 19. Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak.

Hegel yang pada awalnya sangat terpengaruh oleh filsafat Kant tersebut kemudian menemukan caranya tersendiri melalui kontemplasi yang terus menerus. Pada dasarnya filsafat Hegel mematahkan anggapan kaum empiris seperti John Locke, Barkeley, dan David Hume. Kaum Empiris ini mengambil sikap tegas pada metafisika. Bagi Locke, metafisika tidak mampu menjelaskan basis fundamental fisafat atau Epistemologi dan tidak dapat mencapai realitas total. Pendapat ini diteruskan kembali oleh David Hume bahwa metafisika tidaklah berharga sebagai ilmu dan bahkan tidak mempunyai arti. Menurut David Hume, metafisika hanya merupakan ilusi yang ada diluar batas pengertian manusia.

Dengan metafisika kemudian Hegel mencoba membangun suatu system pemikiran yang mencakup segalanya baik Ilmu Pengetahuan, Budaya, Agama, Konsep Kenegaraan, Etika, Sastra, dll. Hegel meletakkan idea tau roh atau jiwa sebagai realitas uatam, dengan ini ia akan menyibak kebenaran absolute dengan menembus batasan-batasan individual atau parsial. Kemandirian benda-benda yang terbatas bagi Hegel dipandang sebagai ilusi, tidak ada yagn benar nyata kecuali keseluruhan.

II. Pembahasan

1.      Riwayat Hidup G.W.F Hegel

Hegel tokoh terbesar dari filsafat idealis lahir di kota Stuttgart pada tanggal 27 Agustus 1770 dari keluarga pegawai negeri, ayahnya merupakan pekerja di kantor keuangan kerajaan Wurtenberg. Tahun 1788 dia masuk sekolah teologi yaitu Universitas Tuebingen. Di sana dia mengenal penyair Holderlin dan Schelling. Pada awalnya dia sangat tertarik dengan teologi, dia bahkan menganggap filasafat adalah teologi dalam pengertian penyelidikan terhadap Yang Absolut. Dari tahun 1790 sampai 1800 bisa dibilang Hegel hanya menghasilkan karya-karya yang berbau teologi antara lain “The Positivity of Christian Religion” tahun 1796 dan “The Spirit of Christianity” tahun 1799.

Hegel selanjutnya setelah sempat tinggal di Swiss, mengajar di Universitas Jena tahun 1801, di sana dia selain mengajar dia juga bekerjasama dengan Schelling dalam menyunting jurnal filsafat. Tahun 1807 terbitlah “Die Phanomenologie des Geistes” (Fenomenologi Roh) yang merupakan dasar dari sistem filsafatnya.
Hegel sendiri juga terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada masa ia hidup. Peristiwa itu adalah dikalahkannya pasukan Prusia oleh tentara Prancis di bawah pimpinan Napoleon tahun 1806. Dengan demikian Prusia dikuasai oleh pemerintahan Napoleon. Dalam pemerintahan Napoleon rakyat Prusia hidup dalam iklim yang jauh lebih demokratis, kebebasan pers misalnya sangatlah dijunjung tinggi. Namun ternyata Napoleon tidak dapat bertahan lama menguasai Prusia, karena lewat peperangan sengit antara Leipzig dan Waterloo, Napoleon pun dikalahkan tahun 1816. Kekaisaran Prusia kembali dipulihkan dan pemerintahan yang bersifat otoritarian kembali dijalankan di seluruh wilayah Prusia.

Perlu diketahui Hegel yang pada masa revolusi Prancis bersimpati pada gerakan Jacobin yang radikal, ternyata pengagum Napoleon. Dia menyebut Napoleon sebagai Roh Dunia dan kagum atas kejeniusan dan kekuatan Napoleon. Namun ketika kekaisaran Prusia direstorasi dia juga menyatakan diri sebagai pengagum kekaisaran Prusia bahkan menjadi seorang propaganda aktifnya.

Tahun 1818 dia menggantikan Fichte sebagai Profesor di Universitas Berlin dan di sana dia mempublikasikan sebuah karya yang sangat berpengaruh terhadap filsafat politik dan filsafat hukum, buku yang terbit tahun 1820 itu berjudul “Grundlinien der Philosophie des Rechts” (Garis Besar Filsafat Hukum). Selanjutnya terbit juga buku-buku lain yang merupakan hasil dari kuliahnya di Universitas Berlin, yang terpenting dari beberapa karyanya itu adalah “Philosophy of History”. Hegel meninggal di Berlin tahun 1831 sama dengan nasib anaknya yang tidak diakuinya yang meninggal di Jakarta –dulu Batavia—saat menunaikan tugasnya sebagai tentara Belanda tahun 1831.

2.      Metode Dialektika

Dialektika merupakan metode yang dipakai Hegel dalam memahami realitas sebagai perjalanan ide menuju pada kesempurnaan. Hegel beranggapan, baik pemikiran maupun Ada, memperkembangkan dirinya dalam suatu proses dialektis yang meliputi tiga tahap: thesis, antithesis, dan synthesis. Pada tahap pertama, nuansa-nuansa belum memainkan peranan. Di sini, dalam suatu kesatuan yang tidak dipisahkan, masih terdapa banyak perbedaan, bahkan pertentangan. Pada tahap antithesis, dikemukakan suatu pertentangan yang radikal serta tidak bernuansa, malah suatu penyangkalan radikal, sedangkan baru pada tahap synthesis, nuansa-nuansa dan pertentangan-pertentangan dari thesis serta antithesis mencapai kesatuan dan kebenaran yang diperhalus serta diperkaya. Dengan demikian, dialektika dapat juga disebut sebagai proses berfikir secara totalitas, yaitu setiap unsure saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), serta saling bermediasi (mempererantarai dan diperantarai).

Untuk memahami proses ini, Hegel menggunakan kata dalam bahasa Jerman yaitu Aufheben, yang maknanya adalah “menyangkal”, “menyimpan” dan “mengangkat”. Jadi dialektika bukanlah penyelesaian kontradiksi dengan meniadakan salah satunya, tetapi lebih dari itu. Tesis dan lawannya antithesis memiliki kebenaran masing-masing yang kemudian diangkat menjadi kebenaran yagn lebih tinggi. Tj. Lavine menerangkan proses ini sebagai berikut:

a.       Menunda konflik antara thesis dan antithesis

b.      Menyimpan elemen kebenaran dari thesis dan antithesis

c.       Mengungguli perlawanan dan meninggikan konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi.

Hal lainnya juga perlu diketahui bahwa dialektika berkaitan dengan dialog, percakapan. Bayangkan percakapan seperti ini. Ada orang yang mengatakan dengan tegas dan tanpa nuansa apa pun: “Indonesia adalah negara yang paling kaya di dunia” (thesis). Lawan bicaranya membalas dengan tegas pula: “Omong kosong, Indonesia adalah negara yang paling miskin” (antithesis). Kalau orang yang pertama lalu diam saja, maka tidak terjadi percakapan dalam arti yang sebenarnya, tidak ada dialog. Akan tetapi, bayangkan saja! Orang pertama mengetengahkan: “Ya, kalau dikatakan paling kaya, itu tentu terlalu optimis. Negara Indonesia tentu juga banyak kelemahan dalam ekonominya: dari segi tertentu kita kaya, tetapi dari segi lain tidak”. juga orang kedua mulai menambah nuansa pada ucapannya: “Paling miskin, ya itu memang melebih-lebihkan. Kita mempunyai sumber daya alam yang kaya dan pembangunan selama ini sudah membawa banyak hasil”. Dengan demikian mereka mencapai apa yang disebut synthesis di mana unsur-unsur kebenaran dari thesis dan antithesis dipertahankan.[1]

Hegel dalam hal ini juga memberikan contoh yang telah disinggungnya pada permulaan usaha filosofisnya, yang merupakan alternative tradisional dengan asumsi bahwa proposisi haruslah terdiri dari subjek dan predikat. Logika seperti inilah yang kemudian direfleksikan oleh Hegel mengenai, yakni dialog tentang ada, ketiadaan, dan menjadi. Hal itu dijelaskannya secara demikian: “Ada, ada yang murni, mencakup segala sesuatu dan merupakan satu-satunya hal yang ada, sama sekali tidak ditentukan, segala sesuatu terkandung di dalamnya” (thesis). “Ada? Justru itu tidak sesuatu pun, ketiadaan, karena ketiadaan pula sama sekali tidak ditentukan. Tidak terdapat Ada, hanya terdapat Ketiadaan”. “Betul, ‘Ada’ dalam bentuknya yang abstrak dan murni memang tidak mempunyai isi, sama seperti ketiadaan” (synthesis). Synthesis inilah kebenaran yang tertinggi.[2] Dengan demikian, pemikiran tentang ada oleh Hegel diputar-balikkan dan diarahkan ke pemikiran tentang ketiadaan hingga akhirnya kedua-duanya diperdamaikan dalam pemikiran tentang menjadi. Supaya konkret, maka Ada atau Yang Absolut harus dimengerti dalam suatu proses yang menjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Bdk. Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hlm. 102-103

[2] Ibid, hlm.103.

 

 

 

 

 

 

 


[1] Bdk. Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hlm. 102-103

[2] Ibid, hlm.103.

 

 

 

 

 

 

 


[1] Bdk. Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hlm. 102-103

[2] Ibid, hlm.103.

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: