//
you're reading...
Uncategorized

Dipanggil untuk Berdialog di Tengah Masyarakat Pluri-religius

Dipanggil untuk Berdialog

di Tengah Masyarakat Pluri-religius

Pengantar

Perbedaan agama merupakan konsekuensi logis dari pengalaman manusia yang unik akan Allah. Allah itu misteri dan Ia menyapa masing-masing orang secara unik pula. Yang penting bukanlah cara relasinya melainkan bahwa mereka mengalami Allah. Celakanya, orang kerapkali disibukkan dengan perbedaan bentuk relasi, formalisme agama yang kaku, ritus-ritus yang baku, tanpa mengalami sendiri pengalaman akan Allah yang esensial itu. Akibatnya muncullah manusia agamais, yang fanatik negatif, namun tidak religius. Orang yang demikian ini umumnya sangat mudah tersulut melakukan tindakan-tindakan destruktif.

Indonesia adalah negara yang plural. Bangsa ini terdiri dari berbagai macam suku dan etnis, bermacam ragam agama dan kepercayaan, sekian banyak kebudayaan dengan adat kebiasaan. Hal ini tentu merupakan suatu kekayaan dan harta yang patut dibanggakan. Sementara itu, kita tidak boleh menutup mata dan mengabaikan bahwa pada tingkat pluralitas ini, persaingan yang mengarah kepada hal-hal negatif sangat mungkin terjadi. Benturan-benturan bisa terjadi akibat pluralitas ini. Etnis yang satu merasa lebih tinggi posisinya dan meremehkan yang lain. Agama yang satu mengklaim diri lebih benar, bahwa hanya mereka sendiri yang tahu rahasia dunia akhirat dan memastikan diri masuk surga. Perbedaan-perbedaan ini apabila tidak diolah dan diarahkan secara baik, bukan mustahil akan menjadi sumber kekacauan dan kerusuhan, bahkan perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Fenomena menggelisahkan yang sampai saat ini kerap menghantui masyarakat pluri-religius tak akan berkesudahan selama manusia kurang menyadari pentingnya dialog. Dialog sebagai usaha mengolah dan mengarahkan perbedaan-perbedaan secara baik memang bukan pekerjaan gampang. Dialog mengandaikan ketekunan, keseriusan dan totalitas yang mendalam. Panggilan untuk berdialog di tengah masyarakat pluri-religius, khususnya dialog dengan umat Islam adalah panggilan kita semua yang memiliki perhatian lebih dalam menjaga serta memelihara perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

 

 

Sekelumit tentang Hidup Gereja yang Dialogal

Konsili Vatikan II adalah titik tolak hidup Gereja yang dialogal. Tetapi dengan titik tolak, tidak dimaksudkan pengertian seakan-akan hidup Gereja yang dialogal ini tidak pernah ada sebelumnya. Dialog sebagaimana dicetuskan Vatikan II mempunyai akar pada Tradisi hidup Gereja. Konsili Vatikan II memicu sekaligus memacu penerjemahan sikap-sikap dialogal Gereja. Sikap dialogal Gereja sebelum Vatikan II nampak dari penyaksian para Bapa Gereja juga para misionaris masa lampau yang menunjukkan sikap positif Gereja terhadap agama-agama lain. Penegasan Konsili vatikan II mengenai sikap positif terhadap agama-agama lain konkret. Dengan konkret dimaksudkan sikap dialogal Gereja Vatikan II tak hanya bersifat konseptual, melainkan diwujudkan dalam tindakan-tindakan nyata. Dalam menegaskan tindakan nyata sikap dialogal, Konsili Vatikan II membentuk komisi yang secara khusus mengurus dialog dengan tiga kelompok umat: Kelompok Umat Kristen yang lain        (other Christians); Kelompok Umat bukan Kristen (non-Christians); Kelompok bukan umat beriman atau kaum ateis (non-Believers).[1]

Komitmen umat Katolik Indonesia untuk menggalang dialog antariman (khususnya dengan Umat Muslim) tak terpisahkan dari komitmen yang telah dan sedang digalakkan oleh umat Muslim dan umat beriman yang lain. Hal ini terbukti dengan dijalankannya dialog antar iman di segala bidang kehidupan, misalnya dengan dibentuknya forum-forum doa dan pertemuan antar umat beragama, kerjasama dalam berbagai bidang (sosial, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain). Hal ini menunjukkan secara jelas bahwa semangat dialogal semakin dominan dan semakin banyak pula pihak yang tergerak untuk melucuti paham ekslusivisme dalam hidup beragama yang kerap memancing pertikaian. Komitmen untuk menciptakan suasana dialogal menggugah setiap nurani untuk terbuka pada perbedaan, menghargai segala potensi unik di baliknya dan mengarahkannya kepada hal-hal positif yang membahagiakan semua pihak tanpa terkecuali.

 

Dipanggil untuk Berdialog

Kecenderungan terburuk manusia yang hidup dalam perbedaan adalah besarnya hasrat untuk menjadi “yang paling menonjol”. Hasrat manusia untuk menjadi “yang paling menonjol” kemudian dilaksanakan dalam berbagai aktivitas yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat. Untuk menegaskan bahwa kelompoknya adalah yang paling menonjol, paling benar, paling religius, manusia bahkan tega mengatakan kelompok lain sebagai kafir, penganut ajaran sesat, dan stereotif lainnya yang ternyata lebih kejam dari membunuh. Dewasa ini, klaim dan cara pandang yang demikian boleh dibilang kuno karena banyak pihak yang tak lagi melihat perbedaan sebagai tempat bersarangnya ekslusivisme, perpecahan, pertikaian dan kekerasan. Banyak pihak yang sudah mengenakan kacamata inklusivisme dalam membaca, menanggapi dan mengolah setiap perbedaan khususnya dalam hidup beragama.

Dalam rangka mengembangkan komitmen untuk berdialog dengan umat beragama lain (khususnya Umat Muslim), setiap individu harus menyadari bahwa dirinya terpanggil untuk berdialog. Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita untuk mengkaji lebih dalam hakikat, isi dan tujuan dialog. Nicolas J. Woly[2] dalam bukunya yang berjudul “Perjumpaan di Serambi Iman” memberikan uraian yang cukup mendalam mengenai hakikat, isi dan tujuan dari dialog antar umat beragama ini. Dialog antaragama pertama-tama harus dimaknai sebagai suatu perjumpaan dan percakapan antara para pengikut dari dua atau lebih agama-agama yang berbeda untuk bersama-sama membahas masalah hubungan antaragama. Dari rumusan sederhana ini terdapat dua hal penting sebagai unsur-unsur pokok yang mendorong dialog, yakni “perjumpaan” dan “percakapan”. Perjumpaan ditandai dengan percakapan, dan percakapan dimungkinkan oleh dan didasarkan pada perjumpaan tersebut.

Dialog bukanlah suatu perdebatan agama. Setiap peserta dialog dituntut untuk mendengarkan secara terbuka dan penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan mitranya, serta berketetapan hati untuk memahami posisinya secara jujur. Artinya, ada suatu kesediaan untuk memberi dan menerima kritik secara terbuka, yang diajukan secara simpatik dan tidak dirancang untuk memberi instruksi atau mengajar orang lain.

Lebih lanjut Woly menguraikan bahwa fokus dialog harus diarahkan pada berbagai persoalan yang berhubungan dengan tanggung jawab bersama umat manusia. Dengan perkataan lain, dialog tidak boleh terikat oleh masalah-masalah teologis. Dialog harus difokuskan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh orang beriman dalam situasi tertentu, baik dalam situasi sekuler maupun pluralis, baik secara religius maupun kultural. Di dalam dialog antaragama, kita dapat membicarakan bersama bagaimana seharusnya tanggung jawab dan kewajiban-kewajiban keagamaan dilakukan dalam komunitas-komunitas kita sendiri untuk membantu memberikan jawaban yang tepat terhadap kesulitan modern yang dihadapi manusia. Dari uraian Cragg dan Azad, Woly juga melihat kesan yang kuat bahwa terbuka kemungkinan untuk menyelenggarakan dialog Kristen-Muslim di seputar persoalan-persoalan teologis. Dialog Islam-Kristen dapat difokuskan pada refleksi bersama mengenai tema-tema tentang pemahaman setiap pihak terhadap isi imannya serta tentang tanggung jawab setiap komunitas keagamaan.

Selanjutnya Woly juga menunjukkan pentingnya menggagas sebuah teologi untuk semua. Ini berarti bahwa sambil mempertegas kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip utama dari agamanya sendiri, Islam dan Kristen dapat mengembangkan suatu ekspresi teologis berdasarkan refleksi iman yang juga dapat dimengerti oleh agama lain. Teologi ini merupakan semacam teologi “agama-agama universal” atau sebuah “teologi agama-agama global” yang disebut Smith sebagai “teologi dunia”.

Setelah memaparkan hakikat dan isi dialog, Woly juga mengemukakan beberapa tujuan dialog. Menurut Woly ada empat tujuan dialog yang perlu diperhatikan, yaitu: pertama, mengurangi sebanyak mungkin berbagai kesalahpahaman di antara komunitas-komunitas keagamaan, baik yang berkaitan dengan isi kepercayaan masing-masing maupun yang berkaitan dengan bentuk-bentuk relasi yang seharusnya terjadi. Kedua, saling menghargai eksistensi masing-masing. Dengan mencapai tujuan yang kedua ini diharapkan akan terbuka peluang yang besar bagi tercapainya tujuan berikut. Tujuan ketiga adalah saling menerima. Dan tujuan terakhir yang hendak dicapai adalah bahwa dialog bertujuan untuk saling memperkaya dan memperkuat.

 

Mengapa Berdialog itu Penting?

Paus Yohanes Paulus II dalam pertemuannya dengan sekitar 8000-an kaum muda muslim di Cassalanca/Marroco, 29 Agustus 1986 berkata: “Kita semua telah diciptakan oleh tangan Allah yang satu dan sama; kita semua sedang berziarah mencari Allah yang satu dan sama; kita semua sedang dalam perjalanan pulang kembali kepada kebahagiaan Allah yang satu dan sama; kita semua adalah anggota dari keluarga yang satu dan sama, … Maka saya menyapa anda sekalian saudara-saudariku terkasih”.[3]

Pernyataan Paus Yohanes Paulus II ini menyadarkan sekaligus menunjukkan bahwa landasan persaudaraan kita dengan umat beragama lain ialah Sang Pencipta kita yang satu dan sama. Kita telah dilahirkan dari rahim Hawa yang satu dan sama. Kita sedang melakukan peziarahan pulang menuju ke rumah Allah yang satu dan sama. Kita seakan sedang berlayar di lautan luas, walaupun perahu layar kita berbeda: ada yang berbendera Katolik, Islam, Hindu, Protestan, dstnya, tapi kita sudah bertolak dari pelabuhan yang sama menuju ke pelabuhan tujuan yang sama.[4]

Sebelum Konsili Vatikan II, pandangan ekslusif Gereja yang menegaskan bahwa “di luar Gereja tidak ada keselamatan” (extra ecclesiam nulla sallus) terasa sangat kental. Dengan pandangan ini Gereja kerap merasa diri lebih superior di bandingkan dengan pemeluk agama lain. Selama pandangan itu bercokol di tubuh Gereja, Gereja merasa bahwa keselamatan seolah-oleh hanya menjadi milik dan dominasinya sendiri. Pandangan ini secara otomatis menutup akses menuju dialog dengan pemeluk agama lain. Setelah Konsili Vatikan II, pandangan ini disingkirkan dari tubuh Gereja. Gereja Katolik Post Konsili melihat dan meyakini bahwa keselamatan itu telah disediakan Allah untuk semua manusia yang berbuat baik, hidup baik sesuai dengan ajaran imannya.

Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik semakin menyadari arti penting kehadirannya di tengah dunia sebagai tanda dan sarana keselamatan, yang harus mewujudkan bahwa kesatuan mesra antara Allah dan manusia hanya mungkin apabila manusia membina kesatuan mesra dengan semua manusia lain (LG. 1). Hal itu berarti bahwa Gereja mengemban tugas yang besar untuk membuka diri, berdialog, merajut hubungan baik dan bersahabat dengan semua orang beriman lainnya. Dengan demikian pantas disadari bahwa dialog merupakan konsekuensi logis dari kehadiran Gereja di tengah dunia bersama umat beragama lainnya.

Dengan mengembangkan semangat dialogal Gereja diminta untuk memandang pihak lain sebagai saudara seperjuangan, menerima dan bahkan mencintai orang lain sebagai sesama yang sama-sama telah diciptakan Allah yang satu dan sama. Gereja Katolik menjadi sangat sadar bahwa tidak mungkin seluruh alam semesta ini dibangun suatu keseragaman iman, tetapi bukan tidak mungkin dalam perbedaan itu mereka membina kesatuan dan persatuan. Kita setuju bahwa kita berbeda, kita berbeda tetapi kita bisa bersatu, membina hubungan baik, bisa berdialog.[5]

Ensiklik Nostra Aetate dan beberapa dokumen Gereja lainnya (Lumen Gentium, Gaudium et Spes, Ad Gentes, Unitatis Redintegratio) telah meletakkan dasar meyakinkan dalam usaha membina dan meningkatkan kesadaran anggota Gereja untuk menjalin dialog yang intens dengan saudara beriman lain. Melalui dokumen ini Gereja tak henti-hentinya menyerukan pentingnya berdialog dengan umat beragama lain karena “semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yaitu Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya”.[6] Dengan berdialog kita menunjukkan keseriusan dan ketulusan kita untuk merangkul sesama dalam kasih persaudaraan, karena mereka adalah saudara seperjuangan yang bersama-sama kita menapaki liku-liku peziarahan hidup untuk sampai pada tujuan yang sama.

 

Syarat-syarat Dialog yang Dewasa[7]

Dialog yang dikembangkan antar umat beriman bukan sekedar percakapan biasa. Dialog memainkan peran yang sangat penting dalam usaha meningkatkan kerukunan hidup beragama. Dialog yang baik harus mampu memenuhi syarat-syarat dialog yang dewasa. Adapun syarat-syarat itu dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, adanya tujuan yang sama. Agar dialog dapat berlangsung dengan baik, maka tujuan yang sama harus ada. Dengan pelbagai rumusan yang berbeda, tanpa kecuali semua agama tertuju pada keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bila dulu kedua keselamatan itu sangat dipisahkan, kini hampir semua agama besar (termasuk lima yang diakui negara Indonesia) melihat kesinambungan atau hubungan erat antara keselamatan dunia/kesejahteraan dengan keselamatan surgawi. Akibatnya, kini hampir semua agama tersebut menaruh perhatian besar pada keluhuran martabat pribadi dan kesejahteraan umat manusia. Ini merupakan modal kita untuk saling berdialog. Selain itu, dialog antaragama sekarang sangat dibutuhkan untuk menghadapi perubahan teknologi dan budaya yang seringkali sulit dikendalikan.

Kedua, adanya penghargaan terhadap identitas masing-masing. Dialog antarmanusia tidak melebur identitas individu. Orang yang siap berdialog perlu mempunyai kemantapan dan penghargaan terhadap keyakinannya sendiri. Bila tidak dia akan didekte oleh pihak lain, dan kalau begitu yang terjadi bukan dialog (dua arah) tapi pendiktean (satu arah). Begitu pula dia perlu menghargai identitas teman dialognya, tidak mendiktekan pendapatnya sendiri.

Ketiga, adanya usaha saling memahami “bahasa” masing-masing dengan imajinasi analogis. Dalam dialog kesalah-pahaman sering terjadi karena orang memakai bahasanya sendiri-sendiri. Banyak istilah yang kita anggap univok ternyata hanya analogis, hal ini lebih-lebih berlaku dalam keyakinan. Kita sebenarnya tak mungkin mencapai pengertian univok dalam soal keyakinan, karena berdasarkan keyakinan masing-masing orang menyusun paradigmanya. Berdasarkan paradigma itu orang memberi arti kepada istilah-istilah. Begitu misalnya kalau kita berbicara tentang cinta kasih. Pada umumnya orang mengartikan cinta kasih sebatas cinta manusia terhadap sesamanya. Bagi kita, orang kristiani, cinta mendapat artinya yang luhur dari cinta Kristus kepada kita.  Cinta kristiani yang sejati adalah cinta seperti Kristus sudah mencintai kita. Adalah sulit bagi orang lain yang tidak mengimani Kristus untuk mengerti cinta kasih kristiani ini. Maka dalam berdialog soal cinta kasih kita tak bisa mengharapkan orang mengerti kata itu seperti kita mengertinya. Kita perlu memahami pengertian mereka tentang cinta kasih dengan imajinasi analogis.

Agama adalah juga wadah sosial, sehingga di situ pun ada pembentukan/pengartian realitas. Kita perlu memakai imajinasi tentang bagaimana mereka mengartikan realitas (manusia, keselamatan, wanita, pria, cinta kasih). Itu pun kemungkinan besar kita hanya dapat mengertinya secara analog. Itu tak berarti bahwa kita perlu menyesuaikan keyakinan kita dengan mereka. Hanya untuk dapat berdialog kita perlu memahami pengertian mereka tentang realitas tanpa meremehkannya.

Penutup

Pengalaman dan pemahaman manusia akan Realitas yang mengatasi dirinya hadir dalam berbagai bentuk yang unik dan sekaligus berbeda satu sama lain. Agama merupakan wadah yang menampung pengalaman keagamaan yang beragam itu. Maka wajar bila agama pun berbeda satu sama lain. Manusia memiliki kapasitas yang jauh dari sempurna dalam menangkap dan memahami realitas yang mengatasi dirinya. Karena itu tidak sepantasnya manusia mengklaim dengan penuh kesombongan bahwa agamanya adalah yang paling benar seraya memojokkan dan menjelek-jelekkan agama lain. Kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia yang hanya mampu menangkap Realitas itu sebatas kemampuan yang kita miliki sebagai manusia. Lantas, perbedaan tidak selayaknya menjadi halangan untuk mengembangkan kerukunan antarumat beragama. Perbedaan harus dijembatani dengan dialog yang intens dan baik.

Sasaran tunggal yang mau dicapai lewat dialog ialah adanya saling pengertian, terciptanya kerukunan dan persaudaraan sejati antar umat beriman. Dialog yang sejati harus bebas dari segala macam tekanan dan paksaan pihak luar. Oleh karena itu, dialog meminta kita untuk mau duduk bersama dalam semangat persaudaraan, mau mendengarkan, mau menerima perbedaan dengan tulus, mau melepaskan diri dari kecenderungan untuk menonjol, menguasai. Bila kita setia menjalaninya dalam semangat persaudaraan, dialog pada akhirnya akan menjadi sebuah diskursus yang menenteramkan dalam memahami, menerima dan menghargai perbedaan antar umat beriman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen Konsili Vatikan II, Nostra Aetate (Pada Zaman Kita). Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristiani, terj. R. Hardawiryana, SJ., Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1991.

 

Riyanto, Armada, (ed.), Agama-Kekerasan. Membongkar Eksklusivisme, Malang: Dioma bekerjasama dengan STFT Widya Sasana, 2000.

 

Tule, Philipus, (ed.), Allah Akbar Allah Akrab. Pembinaan Kerukunan Antarumat Beragama yang Berbasis Konteks NTT, Maumere: Ledalero, 2003.

 

Woly, Nicolas J., Perjumpaan di Serambi Iman, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

 

 


[1] Dr. Armada Riyanto (ed.), Agama-Kekerasan. Membongkar Eksklusivisme, dalam Dr. Khaled Akasheh & Dr. Armada Riyanto, Sikap Dialogal Gereja. Komitmennya dalam Dialog dengan Islam, Malang: Dioma bekerjasama dengan STFT Widya Sasana, 2000, hlm. 1 – 6.

[2] Nicolas J. Woly, Perjumpaan di Serambi Iman, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm. 506-561.

[3] Philipus Tule, SVD (ed.), Allah Akbar Allah Akrab. Pembinaan Kerukunan Antarumat Beragama yang Berbasis Konteks NTT, dalam Benediktus Daghi, Diutus untuk Berdialog, Maumere: Ledalero, 2003, hlm. 103.

[4] Ibid.

[5]Ibid., hlm. 104.

[6] Lih. NA. 1.

[7] Disadur dari Dr. Armada Riyanto (ed.), Agama-Kekerasan. Membongkar Eksklusivisme, dalam A. Sad Budianto, M.A., Menghayati Iman Kristiani di Tengah Pluralisme, Malang: Dioma bekerjasama dengan STFT Widya Sasana, 2000, hlm. 60-63.

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: