//
you're reading...
Uncategorized

Dayak: Antara Rumah Betang dan Identitas

Dayak: Antara Rumah Betang dan Identitas

I. Pendahuluan

Tempus mutantur, et nos mutamur in illud. Waktu berubah, dan kita pun ikut berubah di dalamnya. Demikian pepatah Latin kuno yang mungkin masih kita temukan aktualitasnya hingga sekarang. Jika dikatakan tak ada yang tetap di dunia ini. Mungkin yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri (pantha rei Heiraklitos).[1]

Menghadapi era post-modern seperti sekarang ini, ada banyak hal yang bisa kita rasakan terutama yang menyangkut suatu perubahan. Atau seringkali itu diterjemahkan sebagai perkembangan, baik itu ilmu pengetahuan maupun teknologi. Yang pasti kita tidak akan bisa membendung arus kemajuan zaman dan semakin canggihnya teknologi seperti sekarang ini. Kita merasa diuntungkan dengan adanya atau semakin tersedianya sarana-sarana yang mempermudah kita, baik dalam kebutuhan hidup sehari-hari atau pun kebutuhan akan datang yang serba instan. Namun demikian, ini hanya artificial saja, tidak menjamin apakah mutu hidup manusia semakin baik atau malah sebaliknya. Kita mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi kita juga kehilangan hal yang lain. Itulah yang dinamakan suatu perubahan.

Perkembangan seperti ini sangat dirasakan khususnya oleh orang Dayak. Perubahan dari hidup bersama di Rumah Betang ke hidup di perumahan. Rumah Betang sendiri adalah identitas orang Dayak. Antara orang Dayak dan Rumah Betang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Karena Rumah Betang merupakan symbol ke”Dayak’an orang Dayak. Selain itu juga, hanya orang Dayak yang mempunyai tempat tinggal seperti itu.

Untuk menggali lebih dalam mengenai apa itu Rumah Betang atau rumah panjang, maka dalam artikel ini akan disajikan beberapa hal menyangkut Rumah Betang bagi suku Dayak pada umumnya. Selain itu juga, tentu dalam artikel ini tidak bisa dirumuskan semua hal yang menyangkut Rumah Betang karena penulis kekurangan buku referensi untuk menambah informasi mengenai Rumah Betang ini. Meskipun demikian, penulis mencoba menggarap artikel dengan judul: Dayak – Antara Rumah Betang dan Identitas ini dengan sebaik mungkin.

 

II. Rumah Betang

2.1 Pengertian

Sebutan untuk Rumah Betang dari satu suku Dayak dengan Suku Dayak yang lain berbeda satu sama lain, tetapi pada umumnya orang lebih kenal dengan sebutan Rumah Betang. Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan[2] sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktivitas perdagangan. Sistem perdagangan yang diterapkan oleh orang Dayak pada jaman dulu sama dengan suku-suku lain di Indonesia, yakni dengan sistem barter, yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak mereka dengan barang-barang yang mereka beli.

Bentuk dan besar Rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada Rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya Rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan Rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki Rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari Rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.

Hal lain yang bisa diperhatikan adalah desain bagian dalam rumah ini. Sebenarnya Rumah Betang adalah kumpulan dari rumah-rumah yang bergabung dalam satu rumah yang dinamakan Rumah Betang ini. Kalau dilihat dari luar seperti satu rumah, tetapi bila kita masuk ke dalam, maka kita akan melihat bahwa sebenarnya antara rumah yang satu dengan yang lain memiliki sekat atau temboknya. Bila digambarkan secara kasar, bentuknya hampir sama dengan rumah biasa, ada ruang tamu, serambi atau teras.

Ada tempat untuk bersama. Tempat inilah yang disebut serambi. Ruangan ini memang diperuntukkan untuk bercengkrama seluruh penghuni rumah yang memiliki panjang 120 meter ini. Tempat ini juga biasa digunakan untuk menyambut tamu, menyelenggarakan pesta, rapat desa dan segala aktifitas sosial kemasyarakatan lainnya. Lebar ruangan ini sekitar 4 meter, sebuah lebar yang sangat cukup untuk memenuhi peruntukkannya. Kalikan saja panjang dan lebarnya, maka yang kita dapatkan adalah ruangan seluas 480 meter persegi. Hal ini membuat warga yang ingin mengadakan pesta tidak perlu lagi menyewa ballrom di sebuah hotel berbintang lima. Ruai adalah bagian kedua dari lima bagian Rumah Betang yang memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda.

Bagian pertama dari rumah yang memiliki lebar sekitar 12 depa ini bernama Padung. Lebar Padung sendiri sekitar 2 depa. Depa adalah satuan ukur yang jaraknya sepanjang rentangan tangan orang dewasa. Bila dikonversikan dalam satuan meter, 1 depa dapat disamakan dengan 1,5 meter. Dalam ruangan yang memiliki lebar 3 meter ini, peralatan untuk bekerja disimpan dan dipersiapkan. Kapak beliung, bubung, pukat, pemansai dan peralatan bekerja lainnya dapat kita lihat disini. Mungkin nama-nama yang telah saya sebutkan menimbulkan keingintahuan tentang bentuk dan fungsi dari peralatan kerja tersebut.

Posisi bagian yang memiliki lebar 2 meter ini, berada setengah meter di bawah bagian sebelumnya. Bagian ini memang sengaja dibuat lebih rendah untuk memudahkan pekerjaan utama yang dilakukan di sini, yaitu menumbuk padi. Para wanita yang bertugas melepaskan bulir padi dari batangnya dapat duduk di ujung Ruai sambil menumbuk padi, sehingga dapat mengurangi rasa lelah mereka dan tentu saja agar dapat bercengkrama dengan penghuni rumah lainnya.

Fungsi utama Teluk sebenarnya untuk jalan. Pintu masuk berada di dua ujung Teluk sebelah kiri dan kanan. Seluruh penghuni dan tamu dapat memasuki rumah melalui tangga yang berada di dua pintu masuk tersebut. Diperlukan tangga untuk masuk ke rumah karena memang rumah ini tidak langsung ddirikan di atas tanah. Rumah berdiri di atas kayu penyangga yang memiliki tinggi 3 meter lebih. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi rumah dari serangan binatang buas dan terjangan banjir. Kayu penyangga adalah kayu Ulin Asli, sehingga mampu bertahan hingga ratusan tahun lebih.

Tidak ada aturan yang menyebutkan memalui pintu yang mana kita dapat memasuki rumah.  Penghuni dan tamu yang masuk atau keluar bisa melalui pintu yang mana saja. Tetapi bagi tamu yang datang dalam satu rombongan harus masuk hanya melalui satu pintu. Tidak diperbolehkan bagi mereka untuk masuk melalui pintu yang satu, sedangkan sebagian yang lain memasuki pintu yang lainnya. Bila ini dilanggar, maka sanksi adat yang berbicara.

Ruangan yang bernama Bilik adalah ruang utama dari rumah panjang yang terdiri dari 26 bilik ini. Masing-masing bilik ditempati oleh satu kepala keluarga yang masih memiliki pertalian darah dengan kepala keluarga lainnya. Satu bilik memiliki panjang dan lebar enam meter. Ruangan yang utamanya diperuntukkan untuk tidur ini terdiri dari dua bagian yaitu Bilik Baruih (bilik bawah) dan Bilik Atuih (bilik atas). Bilik pertama diperuntukkan bagi anak-anak dalam keluarga, dan bilik berikutnya digunakan oleh kedua orang tua.

Bagian terakhir dari rumah ini adalah Pelaboh. Ruangan ini menggenapi kelengkapan yang perlu ada di dalam sebuah rumah. Pelaboh berfungsi sebagai dapur bagi masing-masing keluarga. Meskipun mereka tinggal dalam satu Rumah Betang, bukan berarti hanya ada satu dapur untuk semua keluarga. Tapi jangan berpikir dengan dapur yang terpisah, maka mereka tidak peduli dengan kondisi dapur tetangganya. Bila ada keluarga yang mendapatkan hasil buruan yang memuaskan, maka masakan hasil buruan akan dibagikan kepada seluruh penghuni Rumah Betang suku Dayak Desah ini. Sebuah bentuk perhatian dan tentu saja akan mempererat tali persaudaraan. Seperti itulah gambaran bentuk Rumah Betang

Rumah Betang merupakan rumah yang kaya akan arti dan makna. Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku Dayak, sebenarnya Rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam Rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di Rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.

 

2.2 Rumah Betang dan Dinamikanya bagi Orang Dayak

Berbicara mengenai Rumah Betang berarti berbicara mengenai suatu kebudayaan dari suatu suku bangsa. Membahas kebudayaan dari hakekat dan organisasinya pada dasarnya berarti mengupas kebudayaan sebagai suatu entitas yang statis. Bahasan Rumah Betang dan Dinamikanya bagi Orang Dayak, yakni segi perubahan yang terjadi di dalamnya, yakni mengapa kebudayaan itu berubah; bagaimana perubahan itu terjadi? Sebelum itu, ada baiknya mencoaba mengerti apa itu perubahan. Kemampuan berubah selalu merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu, kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yagn berubah. Barangkali perubahan kebudayaan belum pernah secepat yang kita saksikan di dunia sekarang ini. Dalam jangka waktu satu generasi, banyak bangsa tradisional berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan yang dalam masyarakat industri Barat memakan waktu selama beberapa generasi.[3]

Rumah Betang itu kini berubah dan menjadi symbol kejayaan masa lalu. Perubahan itu terjadi dan tetap terjadi. Identitas ke’Dayak’an itu kini mulai luntur dan perlahan-lahan akan hilang sama sekali. Bisa dihitung dengan jari Orang Dayak yang masih tinggal di Rumah Betang lagi. Rumah itu kini mulai goyah dan diganti dengan rumah tunggal. Lambang komunal telah berganti dengan lambang individual.

Keterbukaan akan perubahan yang begitu cepat itulah yang membuat identitas ke’Dayak’an itu kini mulai luntur. Zaman modern mengubah semuanya. Tetapi pada masa sekarang pun banyak orang luar (bahkan orang Indonesia sendiri) beranggapan bahwa suku Dayak adalah suku yang tertutup, individual, kasar dan biadab. Sebenarnya hal ini merupakan suatu kebohongan besar yang diciptakan oleh para kolonial Belanda waktu masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk memecah belah persatuan dan kesatuan terutama di antara suku Dayak sendiri yang pada saat itu menjunjung tinggi budaya Rumah Betang. Dan kebohongan tersebut masih dianggap benar sampai sekarang oleh mereka yang tidak mengenal benar siapa itu orang Dayak.[4]

Citra buruk masyarakat Dayak di perparah lagi dengan timbulnya kerusuhan-kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan yang di ekspos besar-besaran hingga keluar negeri (terutama melalui media internet) tanpa memandang sebab sebenarnya dari kerusuhan tersebut hanya memandang berdasarkan pembantaian massal yang terjadi, seperti kerusuhan di Kalimantan Barat (Sambas) dan Kalimantan Tengah (Sampit dan Palangkaraya).[5] Kerusuhan tersebut bukanlah akibat adanya tokoh-tokoh intelektual yang ingin mengacaukan keadaan atau perasaan cemburu suku Dayak karena etnis tertentu lebih berhasil dalam mencari nafkah di Kalimantan, tetapi lebih kepada terlukanya perasaan masyarakat Dayak yang dipendam selama bertahun-tahun akibat tidak di hargainya budaya Betang yang mereka miliki oleh etnis tertentu, hingga perihnya luka tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh masyarakat Dayak dan akhirnya mengakibatkan pecahnya konflik berdarah tersebut. Seharusnya etnis tertentu tersebut lebih memahami pepatah “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bukannya bersikap arogan dan ingin menang sendiri serta tidak menghargai budaya lokal (budaya Rumah Betang yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa).

Kini, Rumah Betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa tempat yang terpencar, Rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan. Sebut saja, misalnya di Palangkaraya terdapat sebuah Rumah Betang yang dibangun pada tahun 1990-an tetapi lebih terlihat sebagai monumen yang tidak dihuni. Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di Rumah Betang. Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya.[6] Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa Rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern.

 

2.3 Nostalgia yang Dikinikan

Tatkala kekhawatiran atau pun rasa takut menyelimuti kehidupan kita, perasaan kita, akan betapa pentingnya mempertahankan identitas diri. Orang pasti akan perlahan-lahan kembali bernostalgia dengan kejadian-kejadian masa lampaunya, ingin menikmati kembali suguhan dunia masa-masa lalu, kejadian-kejadian masa lalu. Kecenderungan kembali ke masa lalu (pastiche) diperlihatkan oleh perlbagai upaya memungut kembali pelbagai bentuk, wujud, pola dan gaya dari pelbagai sumber masa lalu. Masa lalu merupakan suatu terminologi masa sekarang yang terjadi pada masa itu. Pepatah mengatakan bahwa “Bahaya umum membuat orang bersatu”.[7] Baik bahwa sekarang kesadaran akan pentingnya bernostalgia dengan kehidupan masa lalu semakin dirasakan. Bahkan ini di tiap-tiap daerah kota besar khususnya di Indonesia sudah mulai digalakkan. Dan dengan demikian tidak mengherankan apabila setiap tahun selalu diadakan semacam kegiatan atau acara yang bertajuk “Tempoe Doeloe” misalnya Malang Tempoe Doeloe, Jakarta Fair, Surabaya Kembali, dsb. Ajang seperti ini kemungkinan besar hanya akan menjadi bahan atau barang tontonan belaka, suatu hal yang unik yang harus diperhatikan apabila hanya diperhatikan bagian-bagian keindahannya. Tetapi, sebaliknya membawa orang pada wawasan akan betapa budaya asli yang ada pada waktu itu benar-benar indah. Hal ini khususnya untuk kaum muda yang pasti sudah banyak dipengaruhi budaya modern, yang pasti juga sudah tercabut dari akar-akar kebudayaan di masa lalu. Pengetahuan akan kebudayaan sendiri kemungkinan sudah ‘tidak ada lagi’.

Dengan berdirinya sarana-sarana “pengkinian” seperti itu seharusnya menjadi contoh yang sangat baik bagi orang Dayak. Bagaimana kehidupan masa lalu di Rumah Betang bisa dihadirkan kembali ke ruang publik. Walaupun saat ini Rumah Betang tetap bisa kita lihat dan temukan, tetapi kebanyakan itu adalah imitasi dari Rumah Betang yang sebenarnya.

 

III. Penutup

Waktu berubah dan cara-cara kita mengekspresikan diri kita, menyusuri jejak pencarian makna tentang siapakan diri kita, orang lain yang ada di sekitar kita dan saat-saat diri kita bersama dengan orang lain juga berubah. Perubahan seperti ini bukan tanpa sebab dan tanpa alasan. Karena dunia memang selalu menawarkan hal itu. Dan yang pasti tidak memperhatikan apakah kita diberi keuntungan atau kerugian dengan kemajuan itu. Hanya kita sendirilah, manusia yang punya akal budi dan kehendak seperti kita inilah yang bisa menilainya.

Kalau semuanya berubah total dan tidak ada yang tersisa, lalu identitas kita dimana? Apa yang kita cari? Sementara yang sangat melekat pada diri kita adalah budaya kita sendiri yang menjadi petunjuk jati diri kita. Maka dalam kehidupan semodern ini pun, perubahan-perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi tetaplah tidak akan pernah menjawab permasalahan hidup manusia.

Di tengah kegalauan dunia seperti ini, masihkah kita tetap ikut-ikutan saja dengan perubahan dan kemajuan itu tanpa mengadakan suatu filterisasi di dalamnya? Mengambil yang baik, dan menolak yang tidak baik? Pengaruh globalisasi membuat dunia dan manusia dewasa ini sangat terpengaruh. Dunia menjadi suatu ‘kampung’ yang bisa dilihat, dipandang, diamati oleh semua orang. Apa saja yang dominan dan ngetrend akan sangat mempengaruhi baik itu ide, pikiran, gaya hidup, mode, faham, hobby atau kemajuan teknik. Dunia yang penuh dengan persaingan satu dengan yang lain melahirkan kelompok-kelompok ‘elit’ atas dasar modal, faham, kuasa, dan kepentingan dll. Lalu pertanyaannya, nilai apakah yang kita tawarkan pada situasi dan masyarakat? Masih adakah nilai sejati yang dapat mempersatukan semua orang?

Oleh karena itu, pentingnya menempatkan kembali budaya-budaya masa lalu sebagai bentuk jawaban atau kegalauan itu. Seperti pendirian Rumah Betang imitasi dengan nilai-nilai yang ditawarkan di dalamnya, yang dengan sendirinya membantu kita untuk menemukan kembali kebiasaan ‘yang mulai hilang’. Walaupun di satu sisi sudah mengalami pergeseran bentuk, tetapi makna yang ditawarkan di situ bisa mendekatkan kita untuk kembali menghidupi budaya, sikap hidup, faham kita akan identitas diri kita. Karena orang yang mengenal dan menjunjung tinggi suatu kebudayaan, adalah orang yang beradab. Sebaliknya orang yang tidak lagi peduli dengan kebudayaan, adalah orang yang biadab.

Dan sekarang, dalam menghadapi kehidupan modern yang sangat individualis, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, materi dan penuh kemunafikan, masihkan budaya Rumah Betang menjadi tatanan hidup bersama di Kalimantan ataukah budaya ini akan ikut menghilang seperti menghilangnya bangunan Rumah Betang di Kalimantan. Apapun jawabannya hanya orang yang pedulilah yang dapat menentukannya! Sekarang atau tidak sama sekali.


[1] Bdk. Adelbert Sniders, Antropologi Filsafat: Manusia Paradoks dan Seruan, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 57.

[2] Tjilik Riwut, Pergulatan Identitas Dayak Dan Indonesia, Jakarta: Galangpress, 2006

[3] William A. Haviland, Antropologi, Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 1998, hlm.250.

[4] Sebagai contoh, tulisan karya orang Belanda bernama J. Lameijn yang berjudul Matahari Terbit dalam Edi Petebang, DAYAK SAKTI: Ngayau, Tariu, Mangkok Merah (Konflik Etnis di Kalbar 1996/1997), Pontianak: Institut Dayakologi, 1998, hlm. 95-100., yang tulisan tersebut sangat merendahkan martabat masyarakat Dayak. Bagian tulisan itu sebagai berikut: “ …. Setelah habis percakapan itu, cukuplah pengetahuan saya tentang orang Dayak. Sebelum itu saya sudah tahu, bahwa orang Dayak itu amat kasar dan biadab tabiatnya. Kalau tiada terpaksa, tiadalah saja berani berjalan sendiri ditanahnya, karena tentulah saja akan kembali tiada berkepala lagi”.

[5] Bdk. Edi Petebang, DAYAK SAKTI: Ngayau, Tariu, Mangkok Merah (Konflik Etnis di Kalbar 1996/1997), Pontianak: Institut Dayakologi, 1998, hlm. 95-100.

[6] Ibid, hlm.95-100.

[7] Bdk. Adelbert Sniders., Op.,Cit, hlm.58.

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: