//
you're reading...
Uncategorized

BAHAYA SINYAL-SINYAL ANARKI PEMERINTAHAN

BAHAYA SINYAL-SINYAL ANARKI PEMERINTAHAN

Oleh: Valentinus Pidin*

9 Desember ditetapkan sebagai Hari Anti-Korupsi Sedunia. Di Indonesia khususnya, peringatan secara besar-besaran terjadi di beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Makasar dll. Salah satu cara yang dilakukan sejumlah kalangan mahasiswa dan terpelajar dalam memperingati hari Anti-Korupsi yang jatuh pada hari Rabu kemarin adalah dengan mengadakan long march (unjuk rasa) ada juga yang mewarnai peringatan hari tersebut hanya dengan melakukan syukuran.

 

Seperti yang terjadi di Jakarta, ribuan Pengunjuk Rasa yang terdiri dari ratusan masa gabungan mahasiswa mengadakan unjuk rasa di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Beberapa kota besar lainnya seperti Semarang, Jambi, Makasar dan tidak ketinggalan kota Jombang, kota para santri, juga memperingati hari tersebut dengan berunjuk rasa. Antusiasme masyarakat menyambut hari anti-korupsi sedunia ini cukup alot. Seperti yang terjadi di Makasar aksi damai ini diwarnai dengan kericuhan antara para mahasiswa dan pihak kepolisian demikian juga yang terjadi di Jambi.

 

Problema seputar kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan bahkan istilah kata sampai tukang parkir di Indonesia bukan lagi menjadi hal yang asing bagi kita, bahkan hal yang menjadi menu perbincangan public tiap saat. Korupsi merajalela bahkan hampir menjadi “kultur” kalangan yang tidak bertanggung jawab di Indonesia ini. Dan tidak disangka Indonesia merupakan negara terkorup peringkat ke-111 di dunia. Sehingga tidak dapat disangkal pula bahwa dari hari ke hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kasus ini tidak pernah tuntas diselesaikan dan malahan semakin menjamur. Meskipun sejak terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden tahun 2004-sekarang, yang juga telah banyak memberantas pejabat-pejabat yang korup. Namun, masalah korupsi belum bisa diberantas sampai ke akar-akarnya.

Bahaya Muncul Prinsip Anarki

Peringatan Hari Anti-Korupsi Sedunia mengindikasikan bahwa sekarang ini dunia bukan lagi kacau karena perang. Bukan lagi kelaparan karena kurang bahan pangan. Bukan lagi tertindas karena adanya penjajahan (kolonialisme). Saat ini kekacauan dan penderitaan bangsa hanya karena ulah para koruptor. Para pemimpin yang susah untuk dipercayai lagi pengabdian mereka. Mereka yang semula diharapkan bisa menjadi perantara kemakmuran masyarakat menjelma menjadi pemangsa dan penindas masyarakat terutama kaum miskin dan yang lemah (rakyat sipil). Akibatnya yang miskin semakin miskin dan begitu sebaliknya yang kaya semakin kaya. Ironis memang!

 

Ironisnya lagi, ada orang-orang penting yang bertindak sebagai pemberantas korupsi, malah mereka sendiri yang melakukan korupsi. Sementara masyarakat awam tentu tidak bisa melakukan apa-apa, karena terkait juga dengan tiadanya kekuatan. Mereka hanya bisa memberontak dalam hati sebagai bentuk ratap tangis moralitas bangsa yang semakin terpuruk.

Hampir semua tindakan manusia memiliki dampak sosial. Peristiwa-peristiwa maraknya kasus narkoba, perampokan, makin marak pekerja seks komersial, bunuh diri (suicide), pencurian, dsb merupakan dampak secara tidak langsung yang terjadi pada warga biasa akibat ketidakkondusifan kehidupan oleh negara. Mereka tidak punya pilihan lain, walaupun harus mengorbankan apa yang paling berharga dari diri mereka. Karena hak mendapat penghidupan yang layak tidak dijamin sepenuhnya.

Negara demokrasi bukan dimengerti sebagai wadah kebebasan individu untuk korupsi. Kebebasan individu untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kecenderungan akan muncul Prinsip Anarchistis (=tidak ada pemerintahan) terjadi, dimana kebebasan tiap individu  untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Tidak ada hukum yang mengekang kebebasan individu. Prinsip ini akan semakin subur, apabila individu-individu terkait kasus kejahatan korupsi tidak diberantas tuntas.

Pentingnya otokritik dan kendali dalam tubuh pemerintah sendiri

Selama ini yang aktif dalam aksi anti-korupsi dan pengamat ketidakadilan dalam masyarakat adalah dari kalangan mahasiswa. Jarang didengarkan suara-suara atau aksi pemerintah sendiri. Seharusnya, kalau memang kasus korupsi ingin diberantas tuntas, harus ada kekangan dari dalam (self-restraint) tubuh kepemerintahan itu sendiri. Kekangan itu dapat berupa gerakan anti-korupsi dalam tubuh pemerintah itu sendiri; pendalaman ajaran iman agama, yang pasti tidak ada satu pun ajaran agama yang membenarkan perbuatan mencuri; kesadaran akan prinsip bahwa kebenaran berdiri di atas segala-galanya; kesadaran sebagai wakil rakyat; dan akhirnya, katakan tidak pada korupsi.

 

Peringatan Hari Anti-Korupsi Sedunia diharapkan bisa membangkitkan hati nurani pejabat dan transparansi hukum yang tidak jelas. Pemimpin bukanlah penguasa melainkan menjadi seorang sahabat yang menjadi tempat perlindungan. Seorang pemimpin ibaratkan gembala yang menjaga kawanan domba-dombanya. Tidak membiarkan domba-domba tersesat dan hilang. Mati kelaparan karena tidak ada makanan. Kalau ingin domba-dombanya menjadi tambun, jangan membiarkan mereka kelaparan karena uang mereka untuk hidup sehari-hari mereka, dicuri.

Ketika semua ini bisa dilaksanakan, maka moralitas bangsa akan semakin baik, kesejahteraan umum akan terjamin (bonum commune) dan tentunya nama baik negara Indonesia akan tetap terjaga. Dengan demikian patutlah kita berseru “turun dan hancurkan bendera korupsi, dan kibarkan bendera anti-korupsi”. Lalu katakan: “say no to corrupt”.

 

*(Penulis adalah mahasiswa S1 Filsafat Teologi STFT Widya Sasana Malang)

 

asaaad

dsadsdas

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: