//
you're reading...
Uncategorized

Rumah Betang: Salah Satu Karakteristik Kebudayaan Dayak yang Semakin Terlupakan

Rumah Betang: Salah Satu  Karakteristik Kebudayaan Dayak yang Semakin Terlupakan

Pengantar

Rumah adalah tempat hunian ideal bagi manusia pada umumnya. Di negara Indonesia yang multi-etnis ini, rumah juga kerapkali dijadikan sebagai simbol representatif dari suku-suku tertentu. Dalam tulisan ini, penulis secara khusus membahas soal rumah betang yang menjadi tempat hunian khas masyarakat Dayak. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang tidak hanya sekedar menjadi simbol representatif kebudayaan sukunya. Lebih dari itu, rumah betang juga merupakan salah satu karakteristik kebudayaan Dayak. Dengan memasang terminologi “karakteristik” sebenarnya dimaksudkan bahwa rumah betang tidak hanya sekedar tempat tinggal layaknya tempat penampungan yang “biasa-biasa” saja. Meskipun bentuk, bahan bangunan dan isi yang ada di dalamnya tidak semewah yang kita bayangkan, namun bagi orang Dayak rumah betang itu sarat makna.

Persepsi suku Dayak tentang rumah betang tercakup dalam beberapa aspek penting dari rumah betang itu sendiri, yaitu aspek penghunian, aspek hukum dan peradilan, aspek ekonomi dan aspek perlindungan serta keamanan.[1] Telah sekian lama rumah betang menjadi hunian kebanggaan masyarakat Dayak. Di tempat inilah segala proses kehidupan masyarakat Dayak mulai dari awal hingga akhir terjadi. Di sinilah semangat persaudaraan, kerjasama dan dialog terjalin dengan sangat baik. Namun ironisnya, di tengah kebanggaan itu terselib kegelisahan dan kepanikan yang luar biasa mana kala hunian yang menjadi kebanggaan sekaligus cerminan karakter masyarakat Dayak ini ikut tergerus oleh perkembangan zaman yang dahsyat. Karena sentuhan modernisasi semakin dominan, banyak rumah bentang yang hanya “tinggal kenangan”. Sayangnya, banyak masyarakat kita khususnya orang Dayak belum sungguh-sungguh menyadari “kehilangan” besar yang sedang dialaminya. Mereka seakan diam seribu bahasa menyaksikan perubahan yang dahsyat itu. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa hal itu terjadi? Dan apa dampaknya bagi perkembangan karakteristik kebudayaan masyarakat Dayak sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini masih jauh dari benak masyarakat Dayak yang belum menyadari akar serta dampak dari “kehilangan” besar yang sedang dialaminya. Pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus menjadi pergulatan besar penulis dalam menyajikan tulisan ini.

 

Hunian yang Oleh Masyarakat Dayak disebut “Rumah Betang”

Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Rumah betang mempunyai ciri-ciri yaitu: bentuk panggung, memanjang. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah betang atau rumah panjang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: bagian hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.[2] Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante.[3]

Betang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan dari rumah betang bisa dijelaskan sebagai berikut:[4]

Rumah betang bentuknya memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam betang. Tangga sebagai alat penghubung pada betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda. Hampir semua betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan.

Bangunan betang biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap.

Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Bagian dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga.

Pada halaman depan betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikurbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.

Pada bagian belakang dari betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah.

 

Makna dan Nilai Rumah Betang

Rumah panjang/rumah betang bagi masyarakat Dayak tidak saja sekedar ungkapan legendaris kehidupan nenek moyang, melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial serta sistem kemasyarakatan, sehingga tak pelak menjadi titik sentral kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia; makna dari pekerjaan; karya dan amal perbuatan; persepsi mengenai waktu; hubungan manusia dengan alam sekitar; soal hubungan dengan sesama.[5] Dapat dikatakan bahwa rumah betang memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Dayak. Rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena di sanalah seluruh kegiatan dan segala proses kehidupan berjalan dari waktu ke waktu.

Rumah betang memang bukan sebuah hunian mewah dengan aneka perabotan canggih seperti yang diidamkan oleh masyarakat modern saat ini. Rumah betang cukuplah dilukiskan sebagai sebuah hunian yang sederhana dengan perabotan seadanya. Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak makna dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang unggul. Tak dapat dipungkiri bahwa rumah telah menjadi simbol yang kokoh dari kehidupan komunal masyarakat Dayak. Dengan mendiami rumah betang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya. Mereka mencintai kedamaian dalam komunitas yang harmonis sehingga mereka berusaha keras untuk mempertahankan tradisi rumah betang ini. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan setiap kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.[6]

Rumah betang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih seksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal. Rumah betang menjadi tempat dan sekaligus menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Dayak untuk membina keakraban satu sama lain. Di tempat inilah mereka mulai berbincang-bincang untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilan satu sama lain. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang sukar untuk dilakukan, meskipun pada malam hari atau bahkan pada saat cuaca buruk sekalipun, sebab mereka berada di bawah satu atap. Demikianlah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan diwariskan secara lisan kepada generasi penerus. Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga selalu dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu. Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang.[7]

 

Beberapa Aspek Penting Rumah Betang

Meski terbilang sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah, rumah betang tetaplah menjadi hunian yang bernilai tinggi bagi masyarakat Dayak. Oleh karena itu sangat penting kiranya bagi kita untuk mencermati lebih jauh pandangan masyarakat Dayak mengenai rumah betang yang tercermin dalam beberapa aspek berikut ini:[8]

Pertama, aspek penghunian. Rumah betang merupakan struktur multi-keluarga permanen dan terutama berfungsi sebagai tempat tinggal utama di samping rumah pondok di ladang.

Kedua, aspek hukum dan hak milik. Rumah panjang mempunyai aspek kepemilikan yang jelas. Terutama adalah hak kepemilikan semua keluarga secara bersama menguasai semua tanah diwilayah rumah panjang. Hak wilayah rumah panjang merupakan hak sekunder, sedangkan hak primer dipegang oleh tiap-tiap keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan. Rumah betang juga merupakan unit peradilan yang sangat penting. Acap kali pertikaian antar anggota rumah betang dapat diselesaikan oleh tetua adat secara internal. Satu hal yang menonjol adalah wewenang seseorang  atau satu keluarga tertentu relatif kecil, yang jauh lebih penting adalah wewenang rumah panjang secara keseluruhan. Hal itu disebabkan adanya egalitarisme yang kuat dalam masyarakat Dayak.

Ketiga, aspek ekonomi. Rumah panjang memegang peranan penting dalam distribusi arus tenaga kerja dan hasil kerja antarkeluarga. Pemakaian tenaga kerja tambahan dari keluarga lain, merupakan kunci dari sistem perladangan yang mereka jalankan.

 

Rumah Betang yang Semakin Terlupakan

Budaya betang merupakan metafor mengenai kebersamaan dalam hidup sehari-hari orang Dayak yang dulu tinggal di rumah betang. Dalam tradisi kehidupan orang Dayak masa lalu, rumah betang bukanlah sekedar tempat bernaung dan berkumpul seluruh anggota keluarga atau melepas keletihan setelah seharian bekerja di ladang. Lebih dari itu, rumah betang adalah jantung dari struktur sosial dalam kehidupan orang Dayak. Di dalam rumah itu setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang dijamin keberlangsungannya. Nilai yang menonjol dalam kehidupan di rumah betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki.[9]

Saat ini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Nilai-nilai komunitas rumah panjang yang termasuk dalam ketiga aspek penting di atas kini nyaris tinggal endapan kisah legendaris masa purba. Kalau pun masih bisa ditemukan, penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas mereka. Ada beberapa analisis yang menguraikan menghilangnya rumah betang berangsur-angsur dari bumi Kalimantan.[10] Pertama, hal itu terkait dengan perubahan agroekosistem yang terjadi dari sistem perladangan menjadi pertanian menetap serta perkebunan seiring dengan kerusakan hutan oleh pembalakan HPH yang legal maupun ilegal. Perubahan itu telah membuat sistem sosial terkena imbas dengan menguatnya privatisasi tanah dan melemahnya ikatan kebersamaan serta kepatuhan terhadap hukum adat. Kedua, pembongkaran rumah betang yang disebabkan oleh penjelasan dan pemahaman mengenai rumah sehat. Lukas Kibas menyebutkan bahwa sekitar tahun 1962, keluar sebuah peraturan dari pemerintah yang mengharuskan pembongkaran rumah betang. Alasannya, rumah betang dianggap sebagai tempat sarang nyamuk dan bila terjadi kebakaran pada rumah yang satu maka semua rumah ikut terbakar. Ketiga, sempitnya ruang privat di dalam konstruksi rumah itu yang meleburkan kepentingan pribadi menjadi kepentingan bersama dan kontrol sosial yang ketat telah membuat orang merasa tidak nyaman tinggal bersama dalam rumah betang. Benar atau tidak analisis tersebut, yang jelas rumah betang sudah tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar orang Dayak di Kalimantan.

Meski rumah betang tidak lagi menjadi tempat hunian, nostalgia dan romantisme tinggal di rumah betang masih membekas dalam ingatan orang Dayak, terutama dari generasi terdahulu. Ingatan tersebut dituangkan dalam metafor budaya betang yang dikonstruksikan dan direproduksi menjadi identitas mengenai kehidupan bersama orang Dayak. Salah satu pandangan tentang budaya betang ini diutarakan oleh J.J. Kusni manakala membayangkan mengenai tatanan sosial yang semestinya dijalankan di bumi Kalimantan. Beliau mengatakan demikian: “Jika akhirnya orang Dayak memperoleh kembali hak mereka menjadi tuan di kampung halamannya sendiri, maka sudah selayaknya mereka menjadi tuan rumah yang bijak, adil dan sopan memperlakukan para tamu yang datang; memberikan kepada mereka kemungkinan memperoleh syarat hidup yang manusiawi; memobilisasi seluruh potensi mereka bersama dengan potensi orang Dayak guna membangun derah demi kepentingan bersama dengan prinsip-prinsip budaya betang “dari dan untuk bersama” dengan kesetiakawanan, saling menghormati dan tenggang menenggang seperti orang di dalam rumah betang untuk kepentingan bersama demi kemajuan betang yang bernama masyarakat”.[11]

Fenomena berangsur-angsur menghilangnya rumah betang dari bumi Kalimantan, khususnya dari hidup masyarakat Dayak sendiri adalah sesuatu yang patut disayangkan dan disesali. Bagimana tidak, rumah betang telah menjadi salah satu citra unggul dari kebudayaan Dayak. Di tempat inilah kepekaan nurani masyarakat Dayak untuk membangun hidup bersama yang harmonis diasah dan kecerdasan budi masyarakat Dayak untuk menerima dan menghargai perbedaan dimatangkan. Saat ini, rumah betang tidak lagi mampu memproduksi manusia-manusia yang responsif, tanggap dan bertanggungjawab terhadap kepentingan bersama karena oleh ulah manusia modern rumah betang telah dipromosikan serta “dijual” sebagai salah satu komoditas industri pariwisata yang hanya akan menghasilkan uang dan kepuasan-kepuasan semu.

Kehadiran rumah betang di bumi Kalimantan merupakan salah satu kekayaan budaya yang sangat bernilai dari bangsa Indonesia. Terlepas dari persoalan rumah betang yang saat ini marak dijadikan komoditas industri pariwisata, rumah betang telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi dinamika perkembangan budaya di tanah air kita. Spiritualitas budaya betang yang menekankan komunalisme, harmonisasi, gotong-royong, solidaritas dan dialog demi kepentingan bersama pada akhirnya juga menjadi milik bangsa Indonesia sepenuhnya. Dengan kata lain, spiritualitas budaya betang tidak hanya menjadi milik orang Dayak, tapi juga menjadi milik bangsa Indonesia seutuhnya. Budaya betang secara kreatif telah menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya, yang mampu mengembangkan interaksi sosial secara mendalam, yang tekun mengumuli perbedaan dengan kesabaran dan semangat penerimaan yang tinggi. Budaya betang sesungguhnya bisa dijadikan cerminan bagi budaya nasional bangsa Indonesia yang senantiasa bergumul dengan pluralitas. Spiritualitas budaya betang kiranya perlu untuk dikaji lebih dalam lagi dan diterapkan dalam masyarakat Indonesia yang plural ini, mengingat segala perbedaan perlu dijembatani oleh semangat solidaritas dan dialog yang mendalam.

Penutup

Dewasa ini, nyaris tak ada negeri yang mampu membendung gelombang modernisasi dan mempertahankan nilai-nilai hakiki kebudayaannya sendiri. Runtuhnya kehidupan komunitas rumah betang merupakan sebagian dari bukti konkret keterombang-ambingan manusia pada gelombang modernisasi. Gelombang modernisasi seakan membius kesadaran manusia dan pada saat yang sama membuat ia tercerabut dari akar kebudayaannya. Bagi orang Dayak, rumah betang adalah simbol representatif kebudayaannya yang sekaligus mencerminkan indentitas serta karakter dari kebudayaan orang Dayak sendiri. Dari penampakan luar, rumah betang tak lebih dari sekedar hunian sederhana yang didiami oleh masyarakat Dayak. Namun, di balik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak nilai budaya yang luhur yang terkadang kurang disadari oleh banyak kalangan termasuk orang Dayak sendiri. Kekurangsadaran inilah yang pelan-pelan menenggelamkan eksistensi rumah betang dari hidup masyarakat Dayak. Rumah betang bak hilang ditelan waktu karena banyak manusia yang kurang menyadari nilai-nilai luhur di balik kehidupan bersama di tempat ini.

Rumah betang mungkin telah tiada. Kalau pun masih ada, mungkin itu hanyalah sisa-sisa yang masih tetap dipertahankan dan dilindungi sebagai warisan budaya leluhur. Sesungguhnya kehidupan rumah betang telah berubah total menjadi kehidupan rumah tunggal seperti yang marak di zaman modern ini. Lantas, masihkah budaya betang dipertahankan oleh masyarakat Dayak khususnya, sebagai suatu budaya yang menjadi landasan tatanan hidup bersama? Ataukah budaya tersebut juga ikut menghilang seiring dengan runtuhnya bangunan rumah betang di era modernisasi ini? Jika hal ini benar-benar terjadi, kita dan orang Dayak khususnya, telah mengalami suatu “kehilangan” besar di mana eksistensi budaya kita di era modernisasi ini benar-benar dipertaruhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku:

Florus, Paulus, dkk., (eds.), Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi, Jakarta: PT Grasindo bekerja sama dengan LP3S – Institut of Dayakology Research and Development, 1994.

 

Haryo, Roedy Widjono AMZ, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: PT Grasindo

bekerja sama dengan Lembaga Bina Benua Puti Janji-LPPS-KWI, 1998.

 

Laksono, P.M., dkk., (eds.), Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut, Yogyakarta: Galangpress, 2006.

 

Internet:

http://betang.com/artikel/seni-budaya/rumah-adat-betang.html diakses Jumat, 26 November 2010, pkl. 12:10.

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Betang, diakses Senin, 22 November 2010, pkl. 12.15.

 

 


[1] Roedy Haryo Widjono AMZ, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: PT Grasindo bekerja sama dengan Lembaga Bina Benua Puti Janji-LPPS-KWI, 1998, hlm. 7.

 

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Betang, diakses Senin, 22 November 2010, pkl. 12.15.

[3] Roedy Haryo Widjono AMZ, Op. Cit., hlm. 6-7.

[4]http://betang.com/artikel/seni-budaya/rumah-adat-betang.html diakses Jumat, 26 November 2010, pkl. 12:10.

 

[5] Roedy Haryo Widjono AMZ, Op. Cit., hlm. 10.

[6] Paulus Florus, dkk., (eds.), Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi, dalam S. Jacobus E. Frans L. Concordius Kanyan, Rumah Panjang Sebagai Pusat Kebudayaan Dayak, Jakarta: PT Grasindo bekerja sama dengan LP3S – Institut of Dayakology Research and Development, 1994, hlm. 206.

 

[7] Ibid., hlm. 207-208.

[8] Roedy Haryo Widjono AMZ, Op. Cit., hlm. 12.

[9] P.M. Laksono, dkk., (eds.), Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut, Yogyakarta: Galangpress, 2006, hlm. 75.

[10] Ibid., hlm. 76-77.

[11] Ibid., hlm. 77-78.

About dayakkebahanberbagi

saya seorang manusia yang sedang mencari dan mencari. bukan hanya kebenaran tetapi apa itu benar? apa yang membuat itu dibenarkan? dan oleh siapa benar itu dikatakan?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: